Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
11.24 | Posted in

NENEK moyang bangsa di Nusantara ini mempunyai beberapa pegangan untuk dipergunakan di dalam memimpin masyarakatnya. Kebanyakan sudah terkristalisasi dalam berbagai bentuk tembang dan juga nasihat luhur. Di antara yang paling menonjol adalah pegangan yang dipergunakan oleh Mahapatih Gajahmada ketika memimpin Majapahit.
“Pustaka Hasta Dasa Parateming Prabu” atau 18 ilmu kepemimpinan. Pitutur luhur ini pernah diterapkan Maha Patih Gajah Mada pada zaman keemasan Kerajaan Majapahit di bumi Nusantara ini. Seperti juga digelar di dalam Istana Jawa Org, ke-18 prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut permulaannya disebut ‘Wijaya’. Artinya pemimpin harus mempunyai jiwa tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan.
Yang kedua ‘Mantriwira’; Artinya pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun.
Ketiga ‘Natangguan’; Artinya pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan.
Keempat ‘Satya Bhakti Prabhu’; Pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa.
Kelima ‘Wagmiwak’; Pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya.
Keenam ‘Wicaksaneng Naya’; Artinya pemimpin harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat.
Ketujuh ‘Sarjawa Upasama’; Artinya seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang jadi pemimpin dan tidak sok berkuasa.
Kedelapan ‘Dhirotsaha’ ; Artinya pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum.
Kesembilan ‘Tan Satrsna’ ; Maksudnya seorang pemimpin tidak boleh pilih kasih terhadap salah satu golongan, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk menyukseskan cita-cita bersama.
Kesepuluh ‘Masihi Samasta Bhuwana’; Maksudnya seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia Tuhan dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.
Kesebelas ‘Sih Samasta Bhuwana’; Maksudnya seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya.
Keduabelas ‘Negara Gineng Pratijna’; Maksudnya seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya.
Ketigabelas ‘Dibyacitta’ ; Maksudnya seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif).
Keempatbelas ‘Sumantri’ ; Maksudnya seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa.
Kelimabelas ‘Nayaken Musuh’ ; Maksudnya dapat menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri.
Keenambelas ‘Ambek Parama Artha’; Maksudnya pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.
Ketujubelas ‘Waspada Purwa Artha’; pemimpin selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (introspeksi) untuk melakukan perbaikan.
Kedelapan belas ‘Prasaja’ :Artinya seorang pemimpin supaya berpola hidup sederhana (Aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap.
Pustaka Hasta Dasa Parateming Prabu: sebagai pegangan atau merupakan ajaran Maha Patih Gajah Mada
By Adji Bayu Samudra
Category:
��
10.23 | Posted in


>termangu sang bima di tepian samudera
>dibelai kehangatan alun ombak setinggi betis
>tak ada lagi tempat bertanya
>sesirnanya sang naga nemburnawa
>
>dewaruci, sang marbudyengrat, memandangnya iba dari kejauhan,
>tahu belaka bahwa tirta pawitra memang tak pernah ada
>dan mustahil akan pernah bisa ditemukan
>oleh manusia mana pun.
>
>menghampir sang dewa ruci sambil menyapa:
>'apa yang kau cari, hai werkudara,
>hanya ada bencana dan kesulitan yang ada di sini
>di tempat sesunyi dan sekosong ini'
>
>terkejut sang sena dan mencari ke kanan kiri
>setelah melihat sang penanya ia bergumam:
>'makhluk apa lagi ini, sendirian di tengah samudera sunyi
>kecil mungil tapi berbunyi pongah dan jumawa?
>
>serba sunyi di sini, lanjut sang marbudyengrat
>mustahil akan ada sabda keluhuran di tempat seperti ini
>sia-sialah usahamu mencarinya tanpa peduli segala bahaya
>
>sang sena semakin termangu menduga-duga,
>dan akhirnya sadar bahwa makhluk ini pastilah seorang dewa
>ah, paduka tuan, gelap pekat rasa hatiku.
>entahlah apa sebenarnya yang aku cari ini.
>dan siapa sebenarnya diriku ini
>
>ketahuilah anakku, akulah yang disebut dewaruci, atau sang marbudyengrat
>yang tahu segalanya tentang dirimu
>anakku yang keturunan hyang guru dari hyang brahma,
>anak kunti, keturunan wisnu yang hanya beranak tiga, yudistira, dirimu,
dan
>janaka.
>yang bersaudara dua lagi nakula dan sadewa dari ibunda madrim si putri
>mandraka.
>datangmu kemari atas perintah gurumu dahyang durna
>untuk mencari tirta pawitra yang tak pernah ada di sini
>
>bila demikian, pukulun, wejanglah aku seperlunya
>agar tidak mengalami kegelapan seperti ini
>terasa bagai keris tanpa sarungnya
>
>sabarlah anakku,.memang berat cobaan hidup
>ingatlah pesanku ini senantiasa
>jangan berangkat sebelum tahu tujuanmu,
>jangan menyuap sebelum mencicipnya.
>tahu hanya berawal dari bertanya, bisa berpangkal dari meniru,
>sesuatu terwujud hanya dari tindakan.
>
>janganlah bagai orang gunung membeli emas,
>mendapat besi kuning pun puas menduga mendapat emas
>bila tanpa dasar, bakti membuta pun akan bisa menyesatkan
>
>duh pukulun, tahulah sudah di mana salah hamba
>bertindak tanpa tahu asal tujuan
>sekarang hamba pasrah jiwaraga terserah paduka.
>
>nah, bila benar ucapanmu, segera masuklah ke dalam diriku.
>lanjut sang marbudyengrat
>
>sang sena tertegun tak percaya mendengarnya
>ah, mana mungkin hamba bisa melakukannya
>paduka hanyalah anak bajang sedangkan tubuh hamba sebesar bukit
>
>kelingking pun tak akan mungkin muat.
>
>wahai werkudara si dungu anakku,
>sebesar apa dirimu dibanding alam semesta?
>seisi alam ini pun bisa masuk ke dalam diriku,
>jangankan lagi dirimu yang hanya sejentik noktah di alam.
>
>mendengar ucapan sang dewaruci sang bima merasa kecil seketika,
>dan segera melompat masuk ke telinga kiri sang dewaruci
>yang telah terangsur ke arahnya
>
>heh, werkudara, katakanlah sejelas-jelasnya
>segala yang kau saksikan di sana
>
>hanya tampak samudera luas tak bertepi, ucap sang sena
>alam awang-uwung tak berbatas hamba semakin bingung
>tak tahu mana utara selatan atas bawah depan belakang
>
>janganlah mudah cemas, ujar sang dewaruci
>yakinilah bahwa di setiap kebimbangan
>senantiasa akan ada pertolongan dewata
>
>dalam seketika sang bima menemukan kiblat dan melihat surya
>setelah hati kembali tenang tampaklah sang dewaruci di jagad walikan.
>
>heh, sena! ceritakanlah dengan cermat segala yang kau saksikan!
>
>awalnya terlihat cahaya terang memancar, kata sang sena
>kemudian disusul cahaya hitam, merah, kuning, putih.
>apakah gerangan semua itu?
>
>ketahuilah werkudara, cahaya terang itu adalah pancamaya,
>penerang hati, yang disebut mukasipat (mukasyafah),
>penunjuk ke kesejatian, pembawa diri ke segala sifat lebih.
>cahaya empat warna, itulah warna hati
>hitam merah kuning adalah penghalang cipta yang kekal,
>hitam melambangkan nafsu amarah, merah nafsu angkara, kuning nafsu
>memiliki.
>hanya si putih-lah yang bisa membawamu
>ke budi jatmika dan sanggup menerima sasmita alam,
>
>namun selalu terhalangi oleh ketiga warna yang lain
>hanya sendiri tanpa teman melawan tiga musuh abadi.
>hanya bisa menang dengan bantuan sang suksma.
>adalah nugraha bila si putih bisa kau menangkan
>di saat itulah dirimu mampu menembus segala batas alam tanpa belajar.
>
>duhai pukulun, sedikit tercerahkan hati hamba oleh wejanganmu
>setelah lenyap empat cahaya, muncullah nyala delapan warna,
>ada yang bagai ratna bercahaya, ada yang maya-maya, ada yang menyala
>berkobar.
>
>itulah kesejatian yang tunggal, anakku terkasih
>semuanya telah senantiasa ada dalam diri setiap mahluk ciptaan.
>sering disebut jagad agung jagad cilik
>
>dari sanalah asal kiblat dan empat warna hitam merah kuning putih
>seusai kehidupan di alam ini semuanya akan berkumpul menjadi satu,
>tanpa terbedakan lelaki perempuan tua muda besar kecil kaya miskin,
>akan tampak bagai lebah muda kuning gading
>amatilah lebih cermat, wahai werkudara anakku
>
>semakin cerah rasa hati hamba.
>kini tampak putaran berwarna gading, bercahaya memancar.
>warna sejatikah yang hamba saksikan itu?
>
>bukan, anakku yang dungu, bukan,
>berusahalah segera mampu membedakannya
>zat sejati yang kamu cari itu tak tak berbentuk tak terlihat,
>tak bertempat-pasti namun bisa dirasa keberadaannya di sepenuh jagad ini.
>
>sedang putaran berwarna gading itu adalah pramana
>yang juga tinggal di dalam raga namun bagaikan tumbuhan simbar di
pepohonan
>ia tidak ikut merasakan lapar kenyang haus lelah ngantuk dan sebagainya.
>dialah yang menikmati hidup sejati dihidupi oleh sukma sejati,
>ialah yang merawat raga
>tanpanya raga akan terpuruk menunjukkan kematian.
>
>pukulun, jelaslah sudah tentang pramana dalam kehidupan hamba
>lalu bagaimana wujudnya zat sejati itu?
>
>itu tidaklah mudah dijelaskan, ujar sang dewa ruci, gampang-gampang susah
>sebelum hal itu dijelaskan, kejar sang bima, hamba tak ingin keluar dari
>tempat ini
>serba nikmat aman sejahtera dan bermanfaat terasa segalanya.
>
>itu tak boleh terjadi, bila belum tiba saatnya, hai werkudara
>mengenai zat sejati, engkau akan menemukannya sendiri
>setelah memahami tentang penyebab gagalnya segala laku serta bisa bertahan
>dari segala goda,
>di saat itulah sang suksma akan menghampirimu,
>dan batinmu akan berada di dalam sang suksma sejati
>
>janganlah perlakukan pengetahuan ini seperti asap dengan api,
>bagai air dengan ombak, atau minyak dengan susu
>perbuatlah, jangan hanya mempercakapkannya belaka
>jalankanlah sepenuh hati setelah memahami segala makna wicara kita ini
>jangan pernah punya sesembahan lain selain sang maha luhur
>pakailah senantiasa keempat pengetahuan ini
>pengetahuan kelima adalah pengetahuan antara,
>yaitu mati di dalam hidup, hidup di dalam mati
>hidup yang kekal, semuanya sudah berlalu
>tak perlu lagi segala aji kawijayan, semuanya sudah termuat di sini.
>
>maka habislah wejangan sang dewaruci,
>sang guru merangkul sang bima dan membisikkan segala rahasia rasa
>terang bercahaya seketika wajah sang sena menerima wahyu kebahagiaan
>bagaikan kuntum bunga yang telah mekar.
>menyebarkan keharuman dan keindahan memenuhi alam semesta
>
>dan blassss . . . !
>sudah keluarlah sang bima dari raga dewaruci sang marbudyengrat
>kembali ke alam nyata di tepian samodera luas sunyi tanpa sang dewaruci
>
>sang bima melompat ke daratan dan melangkah kembali
>siap menyongsong dan menyusuri rimba belantara kehidupan
>
>tancep kayon
>
>salam,

>WEJANGAN DEWA RUCI
>------------------
>termangu sang bima di tepian samudera
>dibelai kehangatan alun ombak setinggi betis
>tak ada lagi tempat bertanya
>sesirnanya sang naga nemburnawa
>
>dewaruci, sang marbudyengrat, memandangnya iba dari kejauhan,
>tahu belaka bahwa tirta pawitra memang tak pernah ada
>dan mustahil akan pernah bisa ditemukan
>oleh manusia mana pun.
>
>menghampir sang dewa ruci sambil menyapa:
>'apa yang kau cari, hai werkudara,
>hanya ada bencana dan kesulitan yang ada di sini
>di tempat sesunyi dan sekosong ini'
>
>terkejut sang sena dan mencari ke kanan kiri
>setelah melihat sang penanya ia bergumam:
>'makhluk apa lagi ini, sendirian di tengah samudera sunyi
>kecil mungil tapi berbunyi pongah dan jumawa?
>
>serba sunyi di sini, lanjut sang marbudyengrat
>mustahil akan ada sabda keluhuran di tempat seperti ini
>sia-sialah usahamu mencarinya tanpa peduli segala bahaya
>
>sang sena semakin termangu menduga-duga,
>dan akhirnya sadar bahwa makhluk ini pastilah seorang dewa
>ah, paduka tuan, gelap pekat rasa hatiku.
>entahlah apa sebenarnya yang aku cari ini.
>dan siapa sebenarnya diriku ini
>
>ketahuilah anakku, akulah yang disebut dewaruci, atau sang marbudyengrat
>yang tahu segalanya tentang dirimu
>anakku yang keturunan hyang guru dari hyang brahma,
>anak kunti, keturunan wisnu yang hanya beranak tiga, yudistira, dirimu,
dan
>janaka.
>yang bersaudara dua lagi nakula dan sadewa dari ibunda madrim si putri
>mandraka.
>datangmu kemari atas perintah gurumu dahyang durna
>untuk mencari tirta pawitra yang tak pernah ada di sini
>
>bila demikian, pukulun, wejanglah aku seperlunya
>agar tidak mengalami kegelapan seperti ini
>terasa bagai keris tanpa sarungnya
>
>sabarlah anakku,.memang berat cobaan hidup
>ingatlah pesanku ini senantiasa
>jangan berangkat sebelum tahu tujuanmu,
>jangan menyuap sebelum mencicipnya.
>tahu hanya berawal dari bertanya, bisa berpangkal dari meniru,
>sesuatu terwujud hanya dari tindakan.
>
>janganlah bagai orang gunung membeli emas,
>mendapat besi kuning pun puas menduga mendapat emas
>bila tanpa dasar, bakti membuta pun akan bisa menyesatkan
>
>duh pukulun, tahulah sudah di mana salah hamba
>bertindak tanpa tahu asal tujuan
>sekarang hamba pasrah jiwaraga terserah paduka.
>
>nah, bila benar ucapanmu, segera masuklah ke dalam diriku.
>lanjut sang marbudyengrat
>
>sang sena tertegun tak percaya mendengarnya
>ah, mana mungkin hamba bisa melakukannya
>paduka hanyalah anak bajang sedangkan tubuh hamba sebesar bukit
>
>kelingking pun tak akan mungkin muat.
>
>wahai werkudara si dungu anakku,
>sebesar apa dirimu dibanding alam semesta?
>seisi alam ini pun bisa masuk ke dalam diriku,
>jangankan lagi dirimu yang hanya sejentik noktah di alam.
>
>mendengar ucapan sang dewaruci sang bima merasa kecil seketika,
>dan segera melompat masuk ke telinga kiri sang dewaruci
>yang telah terangsur ke arahnya
>
>heh, werkudara, katakanlah sejelas-jelasnya
>segala yang kau saksikan di sana
>
>hanya tampak samudera luas tak bertepi, ucap sang sena
>alam awang-uwung tak berbatas hamba semakin bingung
>tak tahu mana utara selatan atas bawah depan belakang
>
>janganlah mudah cemas, ujar sang dewaruci
>yakinilah bahwa di setiap kebimbangan
>senantiasa akan ada pertolongan dewata
>
>dalam seketika sang bima menemukan kiblat dan melihat surya
>setelah hati kembali tenang tampaklah sang dewaruci di jagad walikan.
>
>heh, sena! ceritakanlah dengan cermat segala yang kau saksikan!
>
>awalnya terlihat cahaya terang memancar, kata sang sena
>kemudian disusul cahaya hitam, merah, kuning, putih.
>apakah gerangan semua itu?
>
>ketahuilah werkudara, cahaya terang itu adalah pancamaya,
>penerang hati, yang disebut mukasipat (mukasyafah),
>penunjuk ke kesejatian, pembawa diri ke segala sifat lebih.
>cahaya empat warna, itulah warna hati
>hitam merah kuning adalah penghalang cipta yang kekal,
>hitam melambangkan nafsu amarah, merah nafsu angkara, kuning nafsu
>memiliki.
>hanya si putih-lah yang bisa membawamu
>ke budi jatmika dan sanggup menerima sasmita alam,
>
>namun selalu terhalangi oleh ketiga warna yang lain
>hanya sendiri tanpa teman melawan tiga musuh abadi.
>hanya bisa menang dengan bantuan sang suksma.
>adalah nugraha bila si putih bisa kau menangkan
>di saat itulah dirimu mampu menembus segala batas alam tanpa belajar.
>
>duhai pukulun, sedikit tercerahkan hati hamba oleh wejanganmu
>setelah lenyap empat cahaya, muncullah nyala delapan warna,
>ada yang bagai ratna bercahaya, ada yang maya-maya, ada yang menyala
>berkobar.
>
>itulah kesejatian yang tunggal, anakku terkasih
>semuanya telah senantiasa ada dalam diri setiap mahluk ciptaan.
>sering disebut jagad agung jagad cilik
>
>dari sanalah asal kiblat dan empat warna hitam merah kuning putih
>seusai kehidupan di alam ini semuanya akan berkumpul menjadi satu,
>tanpa terbedakan lelaki perempuan tua muda besar kecil kaya miskin,
>akan tampak bagai lebah muda kuning gading
>amatilah lebih cermat, wahai werkudara anakku
>
>semakin cerah rasa hati hamba.
>kini tampak putaran berwarna gading, bercahaya memancar.
>warna sejatikah yang hamba saksikan itu?
>
>bukan, anakku yang dungu, bukan,
>berusahalah segera mampu membedakannya
>zat sejati yang kamu cari itu tak tak berbentuk tak terlihat,
>tak bertempat-pasti namun bisa dirasa keberadaannya di sepenuh jagad ini.
>
>sedang putaran berwarna gading itu adalah pramana
>yang juga tinggal di dalam raga namun bagaikan tumbuhan simbar di
pepohonan
>ia tidak ikut merasakan lapar kenyang haus lelah ngantuk dan sebagainya.
>dialah yang menikmati hidup sejati dihidupi oleh sukma sejati,
>ialah yang merawat raga
>tanpanya raga akan terpuruk menunjukkan kematian.
>
>pukulun, jelaslah sudah tentang pramana dalam kehidupan hamba
>lalu bagaimana wujudnya zat sejati itu?
>
>itu tidaklah mudah dijelaskan, ujar sang dewa ruci, gampang-gampang susah
>sebelum hal itu dijelaskan, kejar sang bima, hamba tak ingin keluar dari
>tempat ini
>serba nikmat aman sejahtera dan bermanfaat terasa segalanya.
>
>itu tak boleh terjadi, bila belum tiba saatnya, hai werkudara
>mengenai zat sejati, engkau akan menemukannya sendiri
>setelah memahami tentang penyebab gagalnya segala laku serta bisa bertahan
>dari segala goda,
>di saat itulah sang suksma akan menghampirimu,
>dan batinmu akan berada di dalam sang suksma sejati
>
>janganlah perlakukan pengetahuan ini seperti asap dengan api,
>bagai air dengan ombak, atau minyak dengan susu
>perbuatlah, jangan hanya mempercakapkannya belaka
>jalankanlah sepenuh hati setelah memahami segala makna wicara kita ini
>jangan pernah punya sesembahan lain selain sang maha luhur
>pakailah senantiasa keempat pengetahuan ini
>pengetahuan kelima adalah pengetahuan antara,
>yaitu mati di dalam hidup, hidup di dalam mati
>hidup yang kekal, semuanya sudah berlalu
>tak perlu lagi segala aji kawijayan, semuanya sudah termuat di sini.
>
>maka habislah wejangan sang dewaruci,
>sang guru merangkul sang bima dan membisikkan segala rahasia rasa
>terang bercahaya seketika wajah sang sena menerima wahyu kebahagiaan
>bagaikan kuntum bunga yang telah mekar.
>menyebarkan keharuman dan keindahan memenuhi alam semesta
>
>dan blassss . . . !
>sudah keluarlah sang bima dari raga dewaruci sang marbudyengrat
>kembali ke alam nyata di tepian samodera luas sunyi tanpa sang dewaruci
>
>sang bima melompat ke daratan dan melangkah kembali
>siap menyongsong dan menyusuri rimba belantara kehidupan
>
>tancep kayon
>
>salam,Wong Ling Lung
Category:
��
09.58 | Posted in


Hidup di dunia ini hanya sementara. Ungkapan ini terlalu sering kita baca dan kita dengar pada berbagai kesempatan. Biasanya kita pun tanpa berpikir secara jauh segera mengiyakan dan menyetujuinya. Meskipun hanya di dalam hati. Kita jarang bertanya, benarkah hidup ini hanya sementara?
Kata sementara berarti sesaat saja. Sekejap mata, sak kedipan netro. Begitu orang Jawa biasa menyebutkan sifat hidup yang tidak abadi ini. Konon, hidup di dunia laksana seorang musafir yang berjalan jauh menuju sebuah tujuan tertentu. Dia harus memiliki bekal agar tidak kelaparan dan kehausan. Bekal pun ditata, direncanakan sebaik-baiknya. Bekal itu biasanya kemudian dimiskinkan maknanya. Yaitu bekal materi saja.
Yang terjadi kemudian, agar kita sukses dalam mengarungi bahtera hidup maka kita perlu menumpuk materi sebanyak-banyaknya. Agar kita tidak mengalami kesengsaraan, kemiskinan, kenistaan. Sejak usia kanak-kanak hingga dewasa, kita terus-menerus dijejali dengan pemahaman semacam ini. Beruntung, kita bertemu dengan banyak orang, tetangga, teman yang memiliki pemahaman yang sama.
Hanya sesekali kita menyadari bahwa bekal hidup yang sejati sebenarnya tidak hanya harta benda. Yaitu ketika kita masuk ke tempat ibadah, di gereja, di masjid, di pura, di kelenteng. Atau saat kita menonton acara mimbar agama di televisi.
Para ulama, pendeta, biksu, dan pemuka agama saat di mimbar akan menyerukan seruan agar kita mempersiapkan bekal hidup yang tidak hanya harta benda kekayaan, pangkat dan jabatan, karier dan pendidikan saja. Tetapi harus dilengkapi dengan ibadah-ibadah yang sudah dituntunkan oleh agama. Kita tidak diperkenankan keluar jalur agama karena nanti bisa tersesat ke jalan yang tidak berpeta. Bukankah bila kita memasuki daerah tanpa peta (kini GPS), kita akan mengalami kebingungan dan akhirnya tersesat?
Selain saat khusus itu, kita terlalu banyak meluangkan waktu untuk menikmati hidup dengan berbagai sarana kebahagiaan yang menunjang kita untuk berperilaku serba cepat, instan dan mencari kemudahan-kemudahan. Hingga pada suatu ketika, kita disadarkan adanya kepastian yang paling tidak membahagiakan.
Satu persatu, orang-orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita. Mulai dari buyut, kakek, nenek, ayah dan ibu. Kita juga mendapati ada satu dua tetangga yang meninggal. Bahkan akhirnya, kita melihat ada bencana alam dengan korban nyawa mencapai ribuan. Ya, kita akhirnya sepakat 100 persen bahwa kematian merupakan kepastian. Tak seorang pun dapat menghindar dan melepaskan diri dari cengkeramannya.
“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata.”
Kita pun akhirnya menyimpulkan bahwa hidup ini hanya sementara saja sehingga harus diisi dengan banyak melakukan ibadah kepada Tuhan. Benarkah hidup ini hanya sementara? Untuk menjawab ini marilah kita jalani penalaran sederhana dulu.
Manusia ini terdiri dari sesuatu yang lahir atau terlihat yaitu berupa (1) badan biologis/jasad/fisik namun juga sesuatu yang sifatnya tidak terlihat atau batiniah yaitu berupa (1) rasa, hati nurani, nafs, jiwa dan juga (2) ruh. Nah dari tiga hal yang dimiliki oleh substansi manusia ini, manakah yang hidupnya bersifat sementara dan mana yang tidak?
Ukuran hidup dan matinya badan biologis/jasad/ teramat jelas. Yaitu apabila nadi sudah tidak bergerak, gelombang otak sudah tidak terdeteksi dengan EEG, dan bila disapa sudah tidak mampu menjawab. Sehingga kita bisa langsung menyimpulkan bahwa tubuh si D harus secepatnya dimakamkan karena secara medis oleh dokter sudah dinyatakan meninggal. KESIMPULANNYA: BADAN BIOLOGIS HIDUPNYA HANYA SEMENTARA.
Yang kedua ini agak lebih sulit lagi. Apa ukuran hidup dan matinya jiwa, rasa, hati nurani? Kita akan mendapatkan jawaban yang kurang masuk akal bila matinya hati nurani ditandai dengan melemahnya fisik, tubuhnya yang kurus, rumahnya yang reyot. Kaum koruptor, politikus busuk, para maling kelas atas atau teroris umumnya berbadan sehat, tidak ada cacat akal, penalarannya logis.
Namun mereka dikatakan mengalami kematian rasa dan jiwa. Lantas apa ukurannya? Hingga sekarang, tidak ada satupun alat hasil temuan ilmu pengetahuan yang mampu benar-benar mendeteksi secara pasti kematian rasa, batin, jiwa ini. Ilmu psikologi biasanya hanya untuk mengukur kesehatan jiwa saja. Bukan hidup dan matinya jiwa. Bila kita sepakat (sebagaimana yang dipaparkan oleh para psikolog bahwa eksistensi jiwa melekat dalam tubuh) maka kita bisa menyimpulkan bahwa: JIWA HIDUPNYA HANYA SEMENTARA.
Yang ketiga inilah yang paling sulit. Yaitu soal ruh. Kita percaya bahwa ruh itu ada. Ada di mana? Apakah ruh itu melekat di tubuh sebagaimana jiwa/rasa/batin kita? Ataukah adanya di dalam tubuh kita dan sesekali pada kesempatan tertentu ruh bisa terbang ke mana-mana sesuai dengan yang dikehendaki? Pelu dipahami bahwa tidaklah tepat kita memetakan ruh ini dalam konteks bereksistensi di dalam ruang dan waktu. Kitab suci juga memberikan arahan bahwa “Ruh adalah urusan tuhan dan kita hanya diberitahu sedikit.
” Nah, kata “sedikit” ini pasti tidak berarti “dilarang”. Sehingga kita pun tetap diperbolehkan untuk membicarakan dan membeberkannya di khalayak publik. Tentu saja publik yang memiliki kepekaan untuk meraba kebenaran. Bukan publik yang emosional, dogmatis dan menganggap bahwa keyakinan adalah sesuatu yang sudah baku dan tidak boleh dikritisi. Publik yang seperti ini malah jauh dari kebenaran yang merupakan jalan Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia.
Siapa menyuruh kita menjadi dogmatis? Tuhan saja bilang pada kita: La ikraha fiddin… Tiada paksaan dalam agama. Memaksakan keyakinan agama dengan paksaan berarti tidak toleran kepada kepercayaan yang lain. Ini justeru sangat dikutuk Tuhan.
Kembali ke ruh. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang ruh ini, kita mendapatkannya melalui cara yang berbeda yang biasa ditempuh apabila kita ingin menggali sebuah fenomena alam. Kenapa? Sebab ruh ini adalah substansi yang berdiri sendiri dan ada di dalam dirinya sendiri. Substansi adalah hakikat sesuatu dan hakikat jelas dilekati oleh berbagai aksidensi khusus. Musalnya berada di dalam ruang dan waktu, jenis, sifat, jumlah, kualitas dan sebagainya.
Sementara ruh-nya sendiri adalah sesuatu yang abstrak yang bisa ditangkap dengan kesadaran yang paling jelas dan nyata. Bila memahami fenomena alam kita menggunakan akal dan penalaran menggunakan metode ilmiah, maka mengenal eksistensi ruh ini kita menggunakan akal khusus yaitu akal budi.
Apa itu akal budi? Akal budi adalah daya pencipta pengertian-pengertian murni yang tidak diberikan oleh pengalaman. Akal budi tidak memiliki nilai konstitutif bagi daya pengenalan manusia. Artinya tidak ikut menyusun pengenalan manusia, dan tidak memberi gagasan tentang kenyataan-kenyataan yang ada dan tidak berada sebagai benda. Akal budi oleh karena itu merupakan sumber hidup manusia yang sesungguhnya. Sebab manusia pada dasarnya sudah diinstal secara lengkap untuk mengenali jati dirinya yang paling sejati.
Setidaknya, manusia sudah diinstal tiga software pokok. Software pertama pengetahuan tentang ruh, software kedua pengetahuan tentang dunia hakikat dan software ketiga pengetahuan tentang Tuhan. Ketiga software ini tidak perlu pembuktian teoritis karena sudah merupakan postulat dasar yang apabila dibuktikan justeru akan mengalami sesat pikir. Bila tidak perlu dibuktikan keberadaannya, maka idealnya manusia perlu mengalami ruh itu sebagai entitas yang tersendiri dan obyektif. Sehingga manusia tetap yakin bahwa ruh benar-benar ada dan tidak hanya sebatas wacana. Toh, tidak haram untuk merasakan adanya ruh.
Pengalaman manusia yang paling memungkinkan untuk menggali kekayaan ruh adalah MENGALAMI PERJALANAN HIDUP DI DALAM RUANG DAN WAKTU, dan kemudian mengalami kejadian-kejadian khusus sehingga dia yakin. Pernahkah Anda mendengar ada orang mati kemudian hidup kembali? Atau orang-orang yang koma? Apa yang diceriterakan oleh mereka yang sudah mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE ini akan memberikan banyak pengetahuan tentang ruh.
Ada seorang teman saya, inisial NZ menceritakan saat-saat genting ketika dia mengalami kecelakaan parah saat sepeda motor yang ditumpanginya disenggol truk tronton. NZ terjatuh, kepalanya terbentur ban tronton yang berputar cepat. Kepala NZ nyaris terlindas dan akhirnya sepeda motornya yang menjadi korban. Hancur tidak berbentuk. Dia koma beberapa minggu sebelum akhirnya sadar sekitar satu bulan setelah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya.
“Saat saya jatuh dari motor, saya sadar. Bahkan ketika roda tronton itu mengenai kepala saya. Saya tidak merasakan sakit. Setelah itu, saya tahu saat itu saya pingsan dan dibawa ke rumah sakit dan disana saya menunggu tubuh saya yang tidak bergerak lagi. Saya tahu para sohib yang datang menjenguk. Ada yang nangis. Saya tahu mereka tapi saya tidak tahu harus berbuat apa… Saya cuma menunggu saja…”
Kisah ini lain dialami tetangga desa yang memiliki pengalaman luar biasa. Sebut saja Pak S. Dia sudah dinyatakan meninggal dunia karena berusia lanjut. Orang desa pun memakamkannya. Beberapa hari kemudian, kuburannya terbuka dan dia bangun dari kematiannya. Gemparlah desa tersebut. Si mayat yang hidup kembali itu konon sudah dialaminya yang keempat kali. Yaitu mengalami kejadian yang sama: hidup lagi setelah dianggap meninggal dunia. Nah, dia akhirnya benar-benar mengalami kematian dan tidak hidup lagi setelah kematiannya yang kelima.
Saya tidak sempat mewawancarainya dan yang sempat mewawancarainya adalah teman karib saya. Pak S menceriterakan dia saat dinyatakan meninggal dan dikubur tersebut, dia mengetahui kejadian itu namun tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuh fisik dan akalnya sudah tidak berdaya. Tapi dia tahu kejadian-kejadian yang menimpanya.
Banyaknya kejadian orang yang mengalami NEAR DEATH EXPERIENCE atau pengalaman saat mengalami kematian sementara ini membuktikan satu keyakinan: bahwa ada “sesuatu” yang hidup, buktinya mereka mengetahui proses saat akan mengalami kematian hingga proses lanjutan saat dia pingsan. “Sesuatu” yang menyadari, mengetahui, dan bisa menceriterakan kembali kejadian-kejadian runtut itulah akhirnya bisa disimpulkan bahwa ada satu entitas metafisis dalam diri manusia. Entitas itu kemudian disebut dengan RUH.
Terserah, apa sebutan lain bagi RUH ini. Yang jelas ruh ini tidak akan tersentuh kematian, ruh juga tidak tersentuh rasa sakit fisik. Ruh tidak mengalami saat-saat kejadian dalam ruang dan waktu tertentu. Dengan demikian RUH BERSIFAT ABADI. RUH SELALU DALAM KEADAAN HIDUP SAMPAI KAPANPUN DAN DIMANAPUN. RUH SELALU SADAR DAN TIDAK MENGENAL TIDUR. RUH ADALAH TUHAN DALAM DIRI MANUSIA.
Makanya, tidak salah bila dalam kitab suci dikatakan untuk mengenal Tuhan maka kita tidak perlu jauh-jauh mencari ke negeri Arab, tidak perlu jauh-jauh ke Betlehem, tidak perlu jauh-jauh ke India namun kita hanya diminta mengenal diri sendiri. Mengenali apa yang sesungguhnya paling sejati di dalam diri manusia. “Kenalilah dirimu sendiri, maka kau akan mengenal Tuhanmu.”
Ya, di dalam diri manusia ada “kitab teles”, ada “kitab basah” yaitu “kitab yang benar-benar kitab” yaitu menunjuk langsung pada KENYATAAN, bahwa Dzat Tuhan ada di dalam diri manusia. Tidak ada dualitas karena sesungguhnya RUH MANUSIA DAN DZAT TUHAN TIDAK BERBEDA. KEDUANYA SESUNGGUHNYA SATU KESATUAN.
Terakhir, bila kita sudah beranjak untuk memahami hakikat keberadaan segala sesuatu bahwa hanya ada satu Dzat Tuhan saja, maka kita perlu waspada dengan segala klaim pengetahuan akal yang sudah kita miliki tentang Tuhan. Sebab: “Sejatine kabeh kui ora ono. Sing Ono Kui Dudu…”
ILMU SEJATI MENURUT SYEKH SITI JENAR
“Sajati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji,
Wijaning ngelmu dyatmika
Neng kahanan ening-ening”
Hakikat ilmu yang sejati
Letaknya pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya,
Disatukan adanya,
Lahirnya ilmu unggul,
Dalam keadaan hening seheningnya
— “Serat Siti Jenar”
Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll… melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan DIRI-NYA Gusti Inkang Akaryo Jagad.
SYEKH SITI JENAR juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus meper hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan diakhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.
Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sesame makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.
Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.
Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. Hati dan pikiran tertuju pada fokus: Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. Sedulur papat limo pancer: Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya—Ruh—Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.
Manusia sejati, menurut Siti Jenar, harus mengetahui GURU SEJATI-nya. Guru Sejati itu semacam intuisi/indera keenam hasil olahan dari RASA yang sangat dalam. Guru sejati adalah RUH yang memperkuat Sukma Sejati/sang pribadi dalam hidup ini. Sementara Sukma Sejati adalah tempat atau wadah bagi dunungnya SANG PRIBADI. Ilmu-ilmu tentang yang demikian itulah oleh Siti Jenar dikatakan sebagai ILMU SEJATI. ***
by Adjisaka
Category:
��
13.59 | Posted in


Jeng Sunan Kalijaga ngling
Amdehar ing pangawikan
Den waspada ing mangkene
Sampun nganggo kumalamat
Den awas ing pangeran
Kadya paran awasipun
Pangeran pan ora rupa

Nora arah nora warni
Tan ana ing wujudira
Tanpa mangsa tanpa enggon
Sajatine nora nana
Lamun ora anaa
Dadi jagadipun suwung
Nora nana wujudira


(Sunan Kalijaga berkata, memaparkan pengetahuannya.
Hendaknya waspada pada yang berikut ini.
Janganlah ragu-ragu. Lihatlah Tuhan secara jelas.
Tapi, bagaimana melihat-Nya.
Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa.

Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna.
Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Sebenarnya Ada-Nya itu tiada.
Seandainya Dia tidak ada,
maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.)

–Serat Siti Jenar, Tan Khoen Swie Kediri 1922

Pendakian spiritual itu mulai dari mana? Mulai dari syariat dulu, kemudian menuju tarikat, hakikat dan akhirnya sampai pada makrifat? Atau Makrifat (mengenal Tuhan) dulu, kemudian penghayatan hakikat, kemudian menjalankan tarikat dan melaksanakan syariat? Menurut saya, pendakian spiritual bisa dari mana-mana. Kita tidak perlu kebingungan terhadap mana yang harus terlebih dulu kita jalani. Semuanya boleh sebagai titik pijak untuk memulai perjalanan.
Ada banyak teman yang memulai perjalanan spiritual dengan “tidak percaya” terhadap adanya Tuhan. Lalu belajar tentang ilmu ketuhanan, dan setelah kedewasaan intelektualnya mengalami kemapanan dan kemudian dia yakin adanya Tuhan dan kemudian menjalankan syariat. Yang demikian ini hebat.

Ada yang memulai dengan menjalankan syariat agama. Sebab dari kecil dia berada di dalam lingkungan yang taat beragama. Oleh orang tuanya, dia dididik untuk menjalankan syariat agama secara leterluks. Kemudian seiring perjalanan usianya, dia mulai mencari tahu dengan banyak belajar tentang agama, yang telah dijalaninya selama ini. Himngga kemudian pengetahuan dan perenungannya sampai pada hakikat. Kemudian dia menjalani laku suluk/tasawuf dan akhirnya mendapatkan pencerahan Makrifat. Yang demikian ini luar biasa.

Ada pula yang tidak mulai apa-apa. Ya tidak menjalankan syariat agama, ya tidak berusaha mencari tahu tentang Tuhan. Dia skeptis dan agnostik terhadap berbagai wacara agama serta kerokhanian. Dia seakan puas dengan apa yang ada pada dirinya. Otaknya tidak digunakan untuk berpikir tentang Tuhan. Namun, di tengah hidupnya dia dipaksa untuk menerima banyak hal yang tidak mauk akal hingga suatu ketika kesadarannya mengalami “BYAR”. Tiba-tiba dia sadar apa yang telah dijalaninya selama ini. Dia pun menemukan Tuhan di dalam hidupnya. Sukur alhamdulillah.

Suatu saat dalam hidupnya, Tuhan pasti akan datang membawa cahaya-Nya yang suci. Dia akan menerangi diri pribadi kita sehingga yang sebelumnya hanya mampu melihat fakta-fakta dengan inderanya, maka setelah pencerahan Tuhan itu datang maka dia mampu untuk melihat hubungan antar fakta dan akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah oleh manusia.

Tuhan itu bukan benda-benda. Tuhan ya Tuhan. Adanya berbeda dengan apa yang pernah diketahui oleh manusia. Yang pernah diketahui oleh manusia berasal dari pengalaman inderanya. Nah, wujud Tuhan ini tidak ada di dalam gudang memori manusia. Sehingga mengatakan Tuhan seperti A, B, C pasti jelas bukan Tuhan. Tuhan sebagaimana yang dibayangkan oleh manusia, tentu berbeda dengan Tuhan sebagaimana wujud-Nya yang asli. Anggapan tentang Tuhan beda dengan Tuhan yang sebenarnya. Sama seperti anggapan saya tentang mobil Mercy, tidak sama dengan mobil Mercy yang sebenarnya. Sebab saya buta tentang mobil, apalagi tidak pernah memiliki mercy sebelumnya sehingga penggambaran saya tentang Mercy berbeda dengan Mercy yang sebenarnya.

Dikatakan oleh Sunan Kalijaga, sebenarnya wujud Tuhan sangat jelas… sangat sangat jelas! Nah, kejelasan ini pasti tidak dimaknai sebagaimana kejelasan benda-benda. Benda bisa dilihat oleh indera. Namun wujud Tuhan? Disinilah kita akan semakin beranjak arif bahwa Tuhan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata manusia itu harusnya tidak dilihat dengan indera. Namun oleh “sesuatu” yang adanya jauh berada di dalam diri manusia. Yaitu batin yang intuitif yang disebut dengan guru sejati. Guru sejatilah yang mampu mengantarkan kita untuk melihat dengan jelas diri pribadi. (sukma sejati) Diri sejati adalah tempat bersemayam Tuhan dalam diri manusia. Di situlah Tuhan duduk di atas arasy.

Sukma sejati atau Diri Sejati berasal dari Cahaya Yang Terpuji yaitu dari NUR MUHAMMAD. Nur Muhammad hanya ada SATU. Dan NUR MUHAMMAD inlah yang selalu mendapatkan PANCARAN ILAHI. Semua yang ada ini pada mulanya satu, termasuk manusia. Asal cahaya itu satu. Pancarannya ke segenap arah inilah yang menyebabkan terjadinya “aku” yang jumlahnya banyak. Meski sekarang kita melihat YANG BANYAK namun itu semua adalah perwujudan dari satu CAHAYA.

Melatih kepekaan batin yang intuitif oleh karenanya sangat penting. Berbagai macam cara dilakukan oleh peradaban manusia untuk menemukan Tuhan di dalam diri manusia. Misalnya dengan berkhalwat, atau mengadakan perjalanan spiritual ke tempat-tempat yang sepi untuk kemudian berdzikir hingga dia merasakan kefanaan.

Dalam kesendiriannya, sang pejalan spiritual akan menemui banyak ilusi/bayangan yang mempesona batin. Namun dia tidak boleh menggap bayangan itulah kenyataan Tuhan. Perjalanan diteruskan hingga pendakian memasuki godaan besar. Dia ditawari berbagai macam kemuliaan dunia. Egonya yang masih melekat pada harta, benda, tahta dan wanita ditantang agar dituruti namun dengan imbalan dia harus menghentikan perjalanannya. Ini tahap berbahaya menuju final.

Bila perjalanan diteruskan lagi, dia akan sampai pada kesendirian dan kesenyapan, Tiba-tiba semua yang nggandoli egonya terlepas begitu saja. Dia tidak butuh apa-apa lagi. Di tahap ini, semua pendamping perjalanan yang selama ini menemaninya satu persatu otomatis terlepas. Pengiring batin terlepas, Malaikat lepas karena tidak sanggup menemani lagi, semua saudara gaib melepaskan dirinya. Ya, dia polos seorang diri menuju Tuhan. Dia kini sudah dituntun oleh Tuhan sendiri untuk melihat Sang Penuntun, yaitu AKU. Ya, manusia sudah bisa melihat AKU SEJATI-NYA tanpa was-was tanpa samar-samar lagi. AKU SEJATI itu begitu terang benderang.

Inilah saat mind/pikiran/budi/rasa sudah tidak lagi digunakan. Atau disebut dengan NO MIND. Dia sampai tahap SUWUNG atau FANA. Kata tidak lagi mampu untuk membahasakan apa fana itu. Sebab kata sangatlah terbatas untuk menggambarkan sesuatu. Apalagi ini menunjuk pada kata yang bukan kata benda, bukan kata sifat, bukan kata keterangan, bukan kata kerja, bukan apa-apa…. ya paling gampang kita sebut saja SUWUNG alias MBUH ORA WERUH. Sebab kita tidak membutuhkan berbagai alat indera dan batin lagi. Kita hanya pasrah, sumeleh, sumarah saja pada Iradat GUSTI.

Category:
��
12.01 | Posted in

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik".
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.
Konon Kaki Semar adalah Kakek moyang yg pertama dan digambarkan sebagai perwujudan dari orang Jawa yg pertama. Karena mendapat "tugas khusus" dari Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan YME), maka Kaki Semar memiliki kemungkinan untuk terus hadir dgn keberadaan pada setiap saat, kepada siapa saja dan kapan saja menurut apa yg dikehendaki.

Salah satu ajaran hidup dari Kaki Semar:

I. Gusti Kang Murbeng Dumadi
Masyarkat Jawa sudah mengenal suatu kekuatan yang maha dengan Nama Gusti Kang Murbeng Dumadi jauh sebelum agama masuk ke tanah Jawa dan sampai ke tradisi saat ini yang dikenal dengan Kejawen yang merupakan “Tatanan Paugeraning Urip” atau Tatanan berdasarkan dengan Budi Perkerti Luhur.
Keyakinan dalam masyarakat mengenai konsep Ketuhanan adalah berdasarkan sesuatu yang Riil atau “Kesunyatan” yang kemudian di realisasikan dalam peri kehidupan sehari hari dan aturan positip agar masyarakat Jawa dapat hidup dengan baik dan bertanggung jawab.
Mengenai Sang Murbeng Dumadi, Kaki Semar mengatakan “Gusti Kang Murbeng Dumadi ing ngendi papan tetep siji, amergane thukule kepercayaan lan agomo soko kahanan,jaman,bongso lan budoyo kang bedo-bedo. Kang Murbeng Dumadi iso maujud opo wae ananging mewujudan iku dede Gusti Kang Murbeng Dumadi” atau dengan kata lain “ Tuhan Yang Maha Esa itu di sembah di junjung oleh semua manusia tanpa kecuali.oelh semua agama dan kepercayaan.Sejatinya Tuhan Yang Maha Esa itu Satu dan tak ada yang Lain. Yang membedakanya hanya cara menyembaah dan memujanya dimana hal tersebut terjadi karena munculnya agama dan kebudayaan dari jaman, waktu atau bangsa yang berbeda beda…”

Tiga hal yang mendasari Masyarakat Jawa mengenai Konsep Ketuhanan yaitu :
1. Kita Bisa Hidup karena ada yang meghidupkan, yang memberi hidup dan menghidupkan kita adalah Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa.

2. Hendaknya dalam hidup ini kita berpegang pada “Rasa” yaitu dikenal dengan “Tepo seliro” artinya bila kita meraa sakit di cubit maka hendaklah jangan mencubit orang lain.

3. Dalam kehidupan ini jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain “Ojo Seneng Mekso” seperti apa bila kita memiliki suatupakaian yang sangat cocok dengan kita, belum tentu baju itu akan sangat cocok dengan orang lain.

Kaki Semar memberikan piwulangnya mengenai konsep dasar penghayatan Mahluk Kepada Khaliknya yaitu Manusia harus mengehathui Tujuh Sifat Kang Murbeng Dumadi.

1. Tuhan Itu Satu , Esa dan tak ada yang lain, dalam bahasa jawa di sebut “ Gusti Kang Murbeng Dumadi”
2. Tuhan itu bisa mewujud apa saja , tetapi pewujudan itu bukanlah Tuhan.”Ananging wewujudan iku dede Gusti “ yang artinya “ yang berwujud itu adalah Karya Allah.
3. Tuhan Itu ada dimana-mana.”Dadi Ojo Salah Panopo,Mulo nang ngendi papan uga ono Gusti “ maksudnya walau Tuhan ada dimana mana, Tuhan satu juga “Nang awakm ugo ono Gusti” maksudnya manusia itu dalam lingkupan Tuhan secara jiwa dan raga.Tuhan ada dalam dirinya tetapi manusia tak merasakanya dengan panca indra, hanya dapat di rasakan dengan “Roso” bahwa dia ada.”Ananging ojo sepisan pisan awakmu ngaku-aku Gusti”maksudnya manusia harus sadar jiwa dan raga ini hanyalah Karya Allah, walaupun DIA ada dalam Manusia tetapi jangan sekali kali manusia mengaku DIA.
4. Tuhan Itu Langgeng, Tuhan Itu Abadi.dari masal dahulu, sekarang, esok dan sampai seterusnya Tuhan, Gusti Kang Murbeng Dumadi tetaplah Tuhan dan tak akan berubah.
5. Tuhan Itu tidak Tidur “ Gusti Kang Murbeng Dumadi ora nyare” maksudnya Tuhan itu mengetahui segalanya dan semuanya, tak ada satupun kata hilaf dan lalai.
6. Tuhan itu Maha Pengasih, Tuhan Itu Maha Penyayang.maksudnya Tuhan itu maha adil tak membeda bedakan kepada mahluknya, siapa yang berusaha dia yang akan mendapatkan.
7. Tuhan Itu Esa dan Maha Kuasa, apa yang di putuskannya tak ada yang dapat menolaknya,

Dengan menyadari hal tersebut manusia di harapkan :

1. “Manungso urip ngunduh wohe pakertine dhewe dhewe” maksudnya manusia kaa menerima paa yang dia tanam, bila baik yang di tanam, maka yang baiklah akan dia terima.
2. Manusia hidup pada saat ini adalah hasil / proses dari hidup sebelumnya.atau”manungso urip tumimbal soko biyen,nek percoyo marang tumimbal” ada petuah yang mengatakan “ Apabila kamu hendak melihat hidupmu kelak, maka lihat lah hidupmu sekarang, bila hendak melihat hidupmu yang lalu, maka lihatlah hidupmu sekarang”
3. “Manungso urip nggowo apese dhewe dhewe” maksudnya agar kita menghilangkan sifat iri,dengki,tamak, sombong sebab saat mati tak ada sifat duniawi tersebut dibawa dan mengntungkan kita.
4. Manusia tak akan mengerti Rahasia Tuhan, “Ati lan pikiran manungso ora bakal iso mangerteni kabeh rencananing Gusti Kang Murbeng Dumadi:”maka Manusia hiduplah “sak madyo” dan tak perlu “nggege mongso”.ada petuha mengatakan “ Hiduplah dengan usaha, tapi janganlah dengan harapan, karena bila gagal maka yang merasakan diri kita juga”

Maka dalam hal ini Kaki semar menganjurkan Manusia memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan”Eling lan Percoyo,Sumarah lan seumeleh lan mituhu” kepada Tuhan Yang Maha Esa.

1. Sumarah : Berserah, Pasrah, Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sumarah ,manusia di harapkan percaya dan yakin akan kasih saying dan kekuasaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Bhawa DIA lah yang mengatur dan aka memebrikan kebaikan dalam kehidupan kita. Keyakinan bahwa apabila kita menghadapai gelombang kehidupan maka Allah akan memebrikan jalan keluar yang terbaik bagi kita.

2. Sumeleh : artinya Patuh dan Bersandar kepada Allah Yang Maha Esa . Manusia sebagai hamba hanya lah berusaha dan keberhasilannya tergantung Kuasa Tuhan yang maha Esa, maka dengan sumeleh ni manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya .

3. Mituhu : artinya patuh taat dan disiplin.

I. Tatanan Paugeraning Urip.

Petuah Kaki semar menenai Tatanan Paugeraning Urip bagi manusia dalam mengisi Kehidupanya di alam fana ini :

1. Eling Lan Bektimarang Gusti Kang Murbeng Dumadi : maksudnya Manusia yang sadar akan dirinya akan selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa.dimana Allah yang Esa telah membrikan kesepantan bagi manusia untuk hidup dan berkarya di alam yang Indah ini.

2. “Percoyo lan Bekti Marang Utusane Gusti”: maksudnya Manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing masing, dimana semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah menganjurkan kebaikan.

3. “Setyo marang Khalifatullah utowo Penggede Negoto”: maksudnya sebaia manusia yang tingal di suatu wilayah,maka adalah wajar dan wajib untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang di keluarka pemimpinnya yang baik dan bijaksana.

4. “Bekti marang Bhumi Nusontoro” maksudnya sebagai manusia yang tinggal dan hidup di bumi nusantara ini wajib dan wajar unuk merawat dan memperlaukan bumi ini dengan baik, dimana bumi ini telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya.

5. “Bekti Marang Wong Tuwo” : maksudnya Manusia ini tidak dengan semerta merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantara Ibu dan Bapaknya, maka hormatilah,mulyakanlah orang tua yang telah merawat kita .

6. “Bekti Marang sedulur Tuwo” : Maksudnya adalah menghormati saudara yang lebih tua dan lebih mengerti dari pada kita, baik dlama umur,pengetahuan maupun kemampuannya.

7. “Tresno marang kabeh kawulo Mudo” : maksudnya menyayangi kawulo yang lebih muda, memberikan bimbingan dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kepada yang muda, dengan harapan yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.

8. “Tresno marang sepepadaning manungso” : maksudnya semua manusia itu sama, hanya membedakan warna kulit dan dan budaya saja. Maka hormatila sesame manusia dimana mereka memiliki harka dan martabat yang sama dengan manusia lainya.
9. “Tresno marang sepepadaning Urip” : maksudnya semua yang di ciptakan Allah adalah mahluk yang ada karena kehendak Allah yang Kuasa.memiliki fungsi masing masing.dengan menghormati semua ciptaan Allah maka kita telah menghargai dan menghormati kepada PENCIPTANYA.

10. “Hormat marang kabeh agomo “ : maksudnya hormatilah semua agama atau aliran dan para penganutnya.
11. “Percoyo marang Hukum Alam” : maksudnya selain Allah menurunkan kehidupan,Allah juga menurunkan Hukum Alam dan menjadi hokum sebab akibat, siapa yang menanam maka dia yang menuai,

12. “Percoyo marang kepribaden dhewe tan owah gingsir” : maksudnya manusia ini rapuh dan hatinya berubah ubah, maka hendaklah menyadarinya dan dapat menepatkan diri di hadapan Allah, agar selalu mendapat lindungan dan rahmat Nya dalam menjalani Hiudp dan kehidupan ini.

Tatanan Paugeraning Urip yang 12 di atas di ringkas menjadi tiga konsep:

1. Hubungan Manusia dengan Allah/Tuhan Yang Maha Esa
2. Hubungan Manusia dengan sesama Manusia
3. Hubungan Manusia dengan Alam Semesta.

Kesemua tatanan di tersebut di atas adalah kaitannya dengan konsep “tatanan Menembah”

1. Sangkan Paraning Dumadi : yaitu Sangkaning Dumadi dan Paraning Dumadi dimana maksudnya adalah agar manusia mengetahui dari mana dia berasal dan mau kemana dia akan kembali.

2. Manunggaling Kawulo lan Gusti : yaitu manunggaling kawulo dengan Gusti adalah dengan melakukan smeua perintahnya, melakukan dan menuruti peraturan peraturan yang di perintakan dengan sbeaik baiknya.

3. Kasedan Jati : yaitu dimana posisi kesadaran manusia sampai kepada tataran sangat menyadari dan telah melakukan atau menjalani kehidupan yang di sebutkan di atas sehingga semua telah menuruti kehendak Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan istilah “Hidup sekali dan mati pun sekali “

II. Tuntunan Sikap terhadap Paugeraning Urip

Kaki Semar menuntunkan sikap terhadapt Paugeraning Urip adalah dengan Kata sesanti atau Petuah “OJO DUMEH,ELING LAN WASPODO”karena :

1. “Ojo dumeh, Eling lan waspodo” adalah bekal manusia menghadapi ujian dan perjuangan hidup dan menjadi senjata ampuh untuk menjadi kesatria utama dalam menaklukan dirinyasendiri dan mewujudkan “Roso setyo lan mituhu dumateng Gusti” serta untuk “ Hamemayu Hayuning Bawono”.

2. “Ojo dumeh, Eling lan Waspodo” adalah sebagai penyeimbang, sehingga pada kondisi maupun situasi apapun manusia akan selamat”Rahayu”, tidak mudah panic dalam setiap pemecahan masalah yang di hadapinya.

3. “ojo dumeh, Eling lan Waspodo”sebagai sarana pencegahan terhadap kecerobohan dan kelalaian yang sering manusia lakukan, karena telah menyadari dan memahami serta mentaati semua kaidah Agama, Budi pekerti, maupun aturan aturan manusia lainnya.

OJO DUMEH yang maksudnya “Jangan Mentang Mentang” adalah suatuperingatan agar manusia tidak larut dengan pa ayang di miliki atau di jalaninya, sehingga cendrung menjalani keputusan hidup yang negatip seperti :

1. Mentang mentang kaya, maka kita menjadi sombong dan merasa semua dapat di beli dengan uang,
2. Mentang menatng Miskin, maka kita menjadi putus asa dan mengakibatkan kita mengumpat sana sini kepada yang kaya..


Siapa yang “mentang mentang” maka suatau saat akan menjadi sebagaimana dalma pribahasa Jawa :
1. Sopo sing Dumeh bakal keweleh
2. Sopo sing adigang bakal keplanggrang
3. Sopo sing Adigung bakal kecemplung
4. Sopo sing Adiguno bakal ciloko
5. Sopo sing Becik bakal ketitik
6. Sopo sing salah bakal seleh
7. Sopo sing Temen bakal Tinemu

Eling Lan Waspodo maksudnya Ingat dan Waspada.

Ingat yang dijalani adalah inget dalam kaitan Menembah kepada Tuhan, ingat akan karunianya, Rahmanya,Nikmatnya , selalu ingat akan kesalahan kita kepada Tuhan, pelanggaran yang kita lakukan dan meminta ampunan kepada Nya. Dengan demikian akan lahirlah Budi perkerti yang luhur sehingga Eling ini akan melahirkan kepedulain kepada manusia dan lingkungan sekitarnya.

Waspodo/Waspada adalah bentuk ke hati-hatian manusia dalam menjalankan hidup, teliti dan mengakibatkan kita menjadi Wara dalam memilih dalam keputusan kita sehari hari. Berhati-hati dalam semua sikap dan tingkah laku. Mana yang merupakan perintah dan mana yang merupakan larangan akan menjadi terang dan jelas bagi kita.sehinga kta akan selamat dalam perjalanan hidup ini.

Ojo Dumeh,Eling lan Waspodo merupakan satu kesatuan yang dipahami secara utuh, sehingga manusia di harapkan menjadi Pasrah dan Yakin Kepada Kekuasaan Tuhan serta menjadi bijaksana,sederhana dan hati hati. Manusia menjadi “Bisa Merasa.” Bukan ”Merasa Bisa.”

Dengan “Ojo Dumeh,Eling lan Waspodo”, maka dalam bahasa Jawa disebutkan ..
1. Ono Luwih,Luwih soko Ono
2. Kang Kebak,Luwih dening kebak
3. Kang suwung,Luwih dening Suwung
4. Kang Pinter, Luwih dening Pinter
5. Kang Sugih, Luwih dening Sugih..

Rahayu.....rahayu....rahayu....

Category:
��